Locations of visitors to this page JAMBI GLOBAL: TIPS MENGURUS PERCERAIAN SENDIRI

Rabu, 08 Desember 2010

TIPS MENGURUS PERCERAIAN SENDIRI

INDONESIA GLOBAL



Mengakhiri sebuah pernikahan tentu bukanlah hal yang mudah. Ada begitu banyak aspek yang perlu diperhatikan.

Tips-tips yang kita temukan dalam banyak artikel selalu memaparkan bagaimana cara membuat agar si dia melamar Anda, atau bagaimana agar suami betah di rumah. Artinya, perempuan tampak dipandang sebagai pihak yang selalu mendesak ingin segera menikah dan membentuk keluarga yang mapan.

Maka, cukup mengejutkan ketika data statistik AARP (American Association of Retired Persons) menyebutkan bahwa 66 persen perempuan menjadi pihak yang berinisiatif untuk bercerai (sebanyak 41 persen pria menjadi inisiatornya), dan mereka mengaku hidup lebih bahagia setelahnya. Alasan utamanya berakar pada persoalan identitas diri.

Sebuah studi tentang kesehatan perempuan sepanjang pernikahan juga membuktikan mereka yang depresi dengan pernikahannya beresiko mengidap sejumlah penyakit seperti hipertensi, obesitas, gula darah tinggi, kolesterol, dan mengalami sindrom metabolisme tubuh. Sedangkan pada laki-laki tidak ditemukan gejala yang sama.

Penyebab perceraian

Melihat bahwa perempuan selalu memberikan usaha luar biasa untuk membuat pria mengatakan, "Maukah kau menikah denganku?", menjadi sangat ironis ketika survei tersebut justru menunjukkan kebalikan cerita: perempuan lebih sering menuntut cerai daripada laki-laki.

Faktor utama perceraian yang diprakarsai perempuan adalah salah memilih pasangan hidup.

Secara historis, pernikahan bagi kaum lelaki adalah memberikan tanggung jawab finansial keluarga, sedangkan bagi perempuan untuk mengurus kebutuhan rumah tangga atau domestik.

Pernikahan menjadi satu dunia baru yang menyita perhatian perempuan. Bahkan ketika memutuskan menikah pun, perempuan lebih sibuk memikirkan "hari pernikahan" daripada makna pernikahan itu sendiri. Begitu pesta usai, paket bulan madu terindah berakhir, maka dimulailah kehidupan nyata perkawinan.

Perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga, lambat laun akan merasa telah mengorbankan mimpi dan identitasnya demi keluarga. Sementara laki-laki akan terus tumbuh sebagai manusia dengan kesibukannya di ruang publik.

Perempuan yang bertahan dengan karir kemudian akan menjalani peran ganda. Sebagai wanita karir yang berjuang untuk menguatkan identitas dirinya, juga sebagai ibu rumah tangga yang harus memastikan rumah tangganya berjalan lancar. Sementara sebagian suami bisa memilih bersantai di depan televisi begitu pulang kerja.

Pada saat itulah, wanita merasa tak lagi menjadi pribadi yang utuh. Pernikahan dengan segala rutinitasnya membuatnya kehilangan identitas, mimpi-mimpi, dan tujuan hidupnya. Maka perempuan pun menggugat cerai, dengan niat untuk kembali mengumpulkan identitas dirinya. Sebanyak 43 persen perempuan mampu bangkit kembali dari perceraian tersebut.

Sungkan rasanya berbicara perceraian. Namun konflik pada pasangan menikah, apalagi bagi mereka yang masih muda, seringkali mengarah pada kata atau sekadar keinginan bercerai. Simak cara cerdas dan juga humoris dari pasangan komedian Jason Jones dan Samantha Bee yang telah menikah 10 tahun.

1. Jika berhasil berkompromi soal isu kebersihan, artinya Anda selamat dari sumber konflik lain. Jika standar higienitas Anda dan pasangan berbeda (kebanyakan pasangan sepertinya mengalami ini), tandanya Anda harus selalu siap berkompromi. Anda tak bisa memaksa pasangan mengikuti standar kebersihan atau higienitas Anda. Karenanya persoalan sederhana seperti pasangan yang selalu melempar kaos kaki sembarangan, atau tidak menyimpan pakaian bekas pakai di keranjang pakaian kotor, bisa menjadi sumber konflik berkepanjangan. Jika Anda dan pasangan bisa mengatasi masalah ini, selamat. Karena Anda pun akan terselamatkan dari konflik yang bersumber dari topik keuangan, politik, agama, bahkan uang.

2. Jika pasangan membuat Anda jengkel, bayangkan saja ia sebagai anak kecil yang menggemaskan. Agak sulit sepertinya menerapkan ini dan mungkin konyol bagi sebagian orang. Tetapi cara ini bisa membuat perspektif lain yang lebih menyegarkan saat Anda sedang kesal. Jika pasangan melakukan pekerjaan yang tak terselesaikan dan tentunya membuat Anda jengkel karenanya, cobalah lihat ia sebagai anak kecil berusia lima tahun. Jika Anda menyaksikan anak berusia lima tahun memberantakkan mainannya dan berbuat semau hati, Anda cenderung menahan diri untuk tidak marah, kan?

Butuh kesabaran dan kemurahan hati memang untuk menjalankan cara ini. Bolehlah dicoba dan bandingkan hasilnya dengan cara lain seperti marah, emosi, atau berteriak menunjukkan kejengkelan Anda kepada pasangan yang bertingkah seperti bocah.

3. Jangan pernah berkelahi di depan umum. Anda tentu tak ingin dicap sebagai biang kerok atau perusak suasana, bukan? Bayangkan seperti apa rasanya jika Anda menyaksikan pasangan berkelahi di depan umum. Selain tak enak dipandang mata, emosi negatif yang dikeluarkannya juga bisa memengaruhi mood Anda. Jaga diri dan pasangan dari perilaku ini.

4. Saling mendengarkan kebutuhan pasangan dan bukan mau menang sendiri. Anda dan pasangan tak bisa memenangkan semua pendapat atau pikiran sendiri. Ada kalanya Anda harus didengarkan, sekaligus mendengarkan. Jangan memaksakan pasangan mengikuti kemauan Anda, menyesuaikan diri dengan semua keinginan Anda. Bagaimanapun pasangan adalah individu yang memiliki hak atas dirinya. Cobalah untuk selalu berusaha saling mendengarkan kebutuhan pasangan, bukan bersikap egois.

5. Jangan pernah menunda. Upayakan untuk tidak menunda hal positif yang bisa dilakukan bersama pasangan, apapun itu bentuknya. Singkirkan BlackBerry, dan nikmati waktu bersama untuk sekadar menonton atau mengomentari acara televisi yang tak bermutu. Jangan rusak waktu berharga dengan terus-menerus mengeluhkan pintu garasi yang rusak, perabot rumah yang semakin menua, atau apapun yang menganggu pikiran Anda. Sempatkan makan malam bersama. Berpegangan tangan lah lebih sering. Sesekali menonton film kesukaan bersama. Bukankah masa-masa bahagia seperti ini yang akan selalu teringat sampai kapanpun?

6. Ajak pasangan atau sekadar tunjukkan keinginan Anda untuk bercinta. Jika setiap pasangan saling memulai mengajak hubungan seks, bukankah perasaan dihargai dan diinginkan akan timbul kemudian? Jika pun untuk alasan tertentu Anda dan pasangan tak bisa melakukan hubungan seks, beritahu pasangan bahwa Anda sedang memikirkannya sedang bercinta dengan Anda. Berikan janji, bahwa nanti, jika waktunya tepat Anda akan segera mewujudkan pikiran nakal tersebut. Kirimkan juga pesan singkat nakal yang memancing gairah pasangan, atau setidaknya memancing senyuman saat membacanya.

7. Beri kesempatan menikmati "me time". Kadang pasangan butuh waktu menyendiri dengan "bersembunyi" di kamar mandi selama 45 menit, misalnya. Biarkan saja. Mungkin ada sikap Anda yang menjengkelkan dan ia ingin menjauh dari Anda sementara waktu. Toh, ia akan kembali kepada Anda setelah merasa dirinya lebih tenang.

8. Jika bertengkar, menjauhlah sementara dan lawan emosi negatif yang muncul. Pertengkaran pastinya akan muncul dalam pernikahan. Jika ini terjadi usahakan untuk tidak terjebak dalam perang mulut. Lebih baik Anda atau pasangan menjauh, cari udara segar dan kembali dengan energi lebih positif.

9. Sisakan 10 persen dari waktu Anda bersama pasangan untuk diri sendiri. Ijinkan pasangan Anda selalu hadir 90 persen dalam rutinitas Anda. Namun simpan sisa waktu 10 persen untuk diri sendiri, baik Anda dan pasangan. Anda tak perlu melihat suami mencukur kumis atau jenggotnya. Lebih menyenangkan jika sudah melihatnya plontos, dan itu memberikan kejutan kecil yang memberi bumbu dalam hubungan.

10. Berikan hadiah yang membuatnya berbinar, bukan berpikir keras. Hadiah seharusnya bisa menyenangkan hati pasangan dan merasa diperhatikan karenanya. Membelikan istri perangkat masak yang canggih namun membuatnya bingung cara menggunakannya, tidak bisa dihitung sebagai hadiah. Bukankah kebutuhan rumah tangga adalah kebutuhan bersama yang harus dipenuhi pasutri? Memberikan pasangan voucher belanja dan membuatnya bebas menggunakan semau hati untuk dirinya adalah hadiah kejutan yang bernilai murni hadiah. Bukan barang yang sengaja dihadiahkan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan Anda atau pasangan. Berikan hadiah yang menjadi representasi cinta dan perhatian Anda kepada pasangan.
Mengakhiri sebuah pernikahan tentu bukanlah hal yang mudah. Ada begitu banyak aspek yang perlu diperhatikan. Namun, yang terpenting adalah kesiapan dan kemantapan seseorang saat mengambil keputusan untuk bercerai. Tak jarang, keputusan cerai diambil dengan tergesa-gesa dan penuh emosi. Rasa menyesal pun hadir belakangan.

Banyak sekali pasangan yang mengurus sendiri perceraian mereka. Meskipun prosesnya sedikit lebih rumit, namun hal ini tidak mustahil dilakukan. Kuncinya, bekali diri Anda dengan pengetahuan yang cukup dan jangan malu bertanya.

Jika Anda memutuskan tidak menggunakan bantuan dari pengacara maupun LBH di pengadilan, Anda tetap dapat berkonsultasi kepada mereka tentang tata cara perceraian. Peran konsultan hukum juga akan sangat membantu, kalau Anda memutuskan mewakili diri sendiri di depan hakim. Cara yang paling mudah adalah mendatangi pengadilan agama atau pengadilan negeri di wilayah Anda, dan tanyakan tata cara mengurus perceraian kepada petugas yang berjaga.

Sebagai panduan, inilah yang harus Anda lakukan jika hendak mengurus perceraian sendiri:
* Menyiapkan surat-surat yang berhubungan dengan perkawinan.

* Membuat kronologis permasalahan.
Penggugat menuliskan kronologis permasalahan rumah tangganya di kertas biasa. Kronologis ini berisi cerita lengkap pernikahan pasangan yang hendak bercerai, dari awal pernikahan hingga penyebab perselisihan sampai akhirnya memutuskan untuk bercerai. Cerita harus dibuat dengan sebenar-benarnya dan detail. Ini untuk memudahkan penggugat dalam menyusun surat gugatan nanti. Usahakan membuat alur cerita yang runtut dan jelas, sehingga hakim juga dapat dengan mudah mengerti alasan-alasan Anda menggugat cerai.

* Membuat surat gugatan cerai.
Dalam surat gugatan cerai, umumnya ada tiga poin yang biasa digugat, yaitu status untuk bercerai, hak pemeliharaan anak, dan hak mendapatkan harta gono-gini. Sebagai contoh, surat gugatan cerai biasanya berisi:

1. Identitas para pihak (Penggugat dan Tergugat)
Terdiri atas nama suami dan istri (beserta bin/binti), umur dan tempat tinggal. Identitas para pihak juga disertai dengan informasi tentang agama, pekerjaan, dan status kewarganegaraan. Hal ini diatur dalam pasal 67 (a) UU No. 7/1989.

2. Posita (dasar atau alasan gugat)
Atau istilah hukumnya adalah Fundamentum Petendi, berisi keterangan berupa kronologis sejak mulai perkawinan Anda dengan suami, peristiwa hukum yang ada (misal, lahirnya anak-anak), hingga munculnya ketidakcocokan antara pasangan yang mendorong terjadinya perceraian. Alasan-alasan yang diajukan dan uraiannya kemudian menjadi dasar tuntutan (petitum). Contoh posita misalnya:

• Bahwa pada tanggal … telah dilangsungkan perkawinan antara penggugat dan tergugat di….
• Bahwa dari perkawinan itu telah lahir … orang anak, yang bernama …, lahir di…., pada tanggal ….
• Bahwa selama perkawinan antara tergugat sering melakukan tindakan kekerasan seperti memukul, dan terjadi pada tanggal….
• Bahwa… dst.
• Bahwa berdasarkan alasan di atas cukup bagi penggugat mengajukan gugatan perceraian.

3. Petitum (tuntutan hukum)
Yaitu tuntutan yang diminta oleh istri sebagai Penggugat agar dikabulkan oleh hakim. Bentuk tuntutan itu misalnya:

Berdasarkan fakta tersebut di atas, maka dengan ini Penggugat memohon kepada Majelis Hakim berkenan memutus sebagai berikut:
1. Menerima dan mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya.
2. Menyatakan perkawinan antara penggugat dan tergugat sah putus karena perceraian.
3. Menyatakan pihak Penggugat berhak atas hak pemeliharaan anak dan berhak nafkah dari tergugat sejak tanggal… sebesar Rp… per bulan sampai Penggugat menikah lagi.
4. Mewajibkan pihak Tergugat membayar biaya pemeliharaan anak (jika anak belum dewasa) terhitung sejak… sebesar Rp… per bulan sampai anak dewasa.
5. Menyatakan bahwa harta berupa… yang merupakan harta bersama (gono-gini) menjadi hak Penggugat.

Setelah gugatan cerai selesai dibuat, fotokopi berkas tersebut sebanyak lima buah. Jadi total Anda mempunyai enam buah berkas gugatan cerai yang nantinya diperlukan saat mendaftar gugatan cerai. Keenam berkas tersebut akan dibagikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengadilan nanti. Satu berkas akan dikirim oleh pengadilan kepada si suami (Tergugat), tiga berkas untuk para hakim, satu berkas untuk panitera pengadilan (pegawai yang bertugas mencatat jalannya sidang), dan satu berkas yang tersisa menjadi pegangan milik Anda.

* Mempersiapkan biaya pendaftaran gugatan.
Siapkan biaya pendaftaran gugatan perkara sekitar Rp 500 ribu – Rp 700 ribu. Biaya pendaftaran ini berbeda di setiap pengadilan, namun umumnya berkisar di angka itu.

* Mendaftarkan gugatan cerai di pengadilan yang berwenang.
Biasanya pendaftaran gugatan dilakukan di ruang administrasi oleh pegawai pengadilan yang bertugas untuk menerima gugatan. Petugas akan memberikan cap atau pengesahan kepada keenam berkas yang diserahkan. Dengan begitu, surat gugatan Anda sudah sah didaftarkan.

* Mempersiapkan saksi-saksi.
Setelah berkas gugatan resmi didaftarkan, pengadilan akan mengirimkan surat gugatan cerai bersama surat panggilan untuk menghadiri sidang pertama kepada pihak suami. Jadwal sidang pertama biasanya jatuh pada dua sampai empat minggu setelah tanggal pendaftaran gugatan cerai.

Jika Anda memilih untuk bercerai dengan didampingi pengacara, waktu Anda tidak akan tersita untuk mengurus surat-surat dan pengadilan. Namun, biaya yang dikeluarkan untuk pengacara tidak sedikit. Meski demikian, pengacara profesional Minola Sebayang mengatakan bahwa para pengacara juga bisa melakukan Prodeo, yaitu memberikan bantuan secara cuma-cuma.

Tidak ada hitungan baku berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar pengacara. Besarnya ongkos sangat tergantung kepada siapa pengacara yang Anda sewa. Semakin terkenal pengacaranya, tentu semakin mahal harganya.

Menurut Minola, uang yang dibayarkan kepada pengacara biasanya melingkupi dua hal, biaya operasional dan biaya fungsional. Yang dimaksud dengan biaya operasional adalah biaya yang diperlukan pengacara untuk transportasi, akomodasi, dan administrasi. Jika biaya transportasi dan akomodasi adalah Rp 500.000 untuk sekali sidang, maka pada kasus perceraian yang umumnya memerlukan 10 kali sidang, klien harus menyiapkan uang sebanyak Rp 5 juta.

Untuk pendaftaran gugatan, biayanya berkisar antara Rp 500.000 dan Rp 1 juta. Adapun biaya untuk pengambilan putusan berkisar pada angka yang sama. Ini belum termasuk uang fotokopi. Sementara itu, biaya fungsional adalah honor pengacara.

“Jika ditotal, bisa mencapai Rp 10 juta. Itu belum termasuk honor pengacara,” kata Minola. Beberapa pengacara, menurut Minola, juga kerap meminta success fee jika kasus yang mereka tangani menang.

Sebagai klien, Anda berhak tahu berapa uang yang Anda keluarkan untuk kuasa hukum Anda. Saran dari Minola, mintalah perjanjian tertulis kepada pengacara sehingga Anda dapat mengetahui untuk apa saja uang tersebut dipergunakan. Hak dan kewajiban kedua belah pihak akan jelas terlihat jika sudah ada perjanjian hitam di atas putih.

“Saya selalu membuat surat serupa. Namanya ruang lingkup pekerjaan dan ketentuan honorarium,” katanya.

Utarakan dengan terbuka seberapa besar kemampuan finansial Anda kepada pengacara. Jika sudah saling merasa enak, maka tanda tangani surat tersebut dilampiri materai.

Trik lain yang sedang ngetren belakangan adalah memakai jasa satu pengacara untuk kedua pihak yang hendak bercerai. Jika memang pasangan tersebut sudah sepakat bercerai, satu pengacara saja sudah cukup untuk mewakili keinginan mereka.

Siasat ini tentunya akan menghemat biaya dan waktu. Sang pengacara akan membuat surat-surat untuk kedua pihak. Namun, di depan sidang, ia akan mendeklarasikan diri mewakili salah satu pihak saja.

“Ini agar tidak ada conflict of interest,” ucap Minola.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang ada di Indonesia. Meski begitu, di Indonesia belum ada LBH yang mengkhususkan diri menangani kasus perceraian. Seperti yang sempat disinggung di atas, LBH akan memelajari terlebih dahulu kondisi ekonomi dan psikologis calon klien. Kasus-kasus luar biasa seperti KDRT tentunya akan mendapatkan perhatian yang lebih khusus.

“Kalaupun ke LBH atau Prodeo, biasanya klien tetap menanggung operasional fee,” Minola mengingatkan.

Tidak ada komentar: