Locations of visitors to this page JAMBI GLOBAL: PERDAGANGAN BUDAK KULIT HITAM MASA LALU SEBUAH BERKAH

Rabu, 23 Juni 2010

PERDAGANGAN BUDAK KULIT HITAM MASA LALU SEBUAH BERKAH

Pele
Rabu,23 Juni 2010 | 09:50 WIB
Luka "Sepakbolanologis Frankofon-Anglofon"

Selain kehebatan dan kelihaian tim soccer dunia ini berlaga, semestinya di hati kecil skuad Belanda, Perancis, Inggris, Portugal, Jerman, dan Spanyol juga masih tersisa "rasa bersalah" terhadap "luka sejarah" soal perdagangan budak berkulit hitam, sebagai komoditas yang dijual-belikan sampai jauh ke Benua Amerika, untuk menjadi budak belian dan pekerja paksa sampai mati di perkebunan tembakau, kapas, dan perkebunan lain.

Sisa keenam tim dunia itu pasti sudah tahu dan sudah menyiapkan alasan dan jawaban defensif kalau ada yang tanya soal nenek moyangnya yang saudagar budak belian asal Afrika. Memang sejak Benua Afrika "terbuka" bagi uitlanders atau pendatang luar sekitaran abad ke-15, sejak saat itu orang putih mulai masuk bergerombol, mencari komoditas dan barang-barang aneh, juga persiapan untuk menjadikan koloni negaranya.

Tahun 1884-1885 terjadilah Konferensi Berlin khusus antarnegara Eropa. Tanah adat dan lahan Afrika yang sudah diduduki negara luar itu dibagi-bagi rata sesuai dengan ukuran skala peta yang disepakati bersama. Afrika pun menjadi negara dalam peta yang dipotong-potong macam kue tarcis. Inggris dan Perancis mendapat jatah paling banyak, akibatnya kini tersisalah banyak negara Afrika yang Frankofon—berdialek bahasa campuran Perancis lokal, serta negara berbahasa Anglofon yang campuran dialek muatan Inggris dan lokal—termasuk bahasa Afrikaan yang gado-gado bahasa Belanda dan dialek lokal di Afsel.

Luka sejarah itu yang mungkin sudah pulih dan sembuh. Kini tataplah baik-baik perjalanannya "luka lama" Frankofon Anglofon dengan kacamata positif sepak bola. Berbagai literatur sepakat menyebut kini ada sekitar 1.000-an lelaki jago sepak bola di dunia yang bumi ini, berasal dari Afrika atau paling tidak tersisa "darah" Afrika-nya. Di antara 32 tim yang bagus-bagus di Afsel, hitung saja berapa banyak atlet bola berkulit hitam dan setengah hitam coklat kelabu.

Masih kurang percaya, tanyakan saja kepada PSSI yang kumpulan pakar sepak bola dan calon gagal tuan rumahnya Piala Dunia 2022. Berapa banyak pemain transferan profesional dari Nigeria, Kamerun, Aljazair, Pantai Gading, dan Afrika Selatan yang istilah bekennya pers olahraga itu "merumput" di Liga Super dan liga laga-laga lainnya. Malah, tayangan TV Indonesia soal laga super tim Indonesia, kalau tidak ada pemain hitamnya, pertandingan kurang seru dan kurang menggigit karena atlet asing gelap-gelap itu suka menggigit lawannya terang-terangan.

Di tingkat kelas dunia, paling tidak di Afsel nanti akan berlaga nomine juara dunia Brasil, kebetulan berbahasa gado-gado slang Portugis campuran lokal. Tim Brasil itu kebanyakan atletnya berkulit sawo kematangan, hitam berkilap, dan hitam terang-terangan. Mereka ini, apa pun ceritanya, merupakan keturunan leluhurnya yang dibawa Portugis untuk menjadi buruh kebun dan pekerja keras di pinggiran Amazon.

Jadi, secara "sepakbolanologis", manusia berkulit gelap Brasil itu memang berleluhur Afrika meski tidak jelas asal-usul negara aslinya di Afrika Barat. Badan dengan DNA Afrika yang rambut keriwil mentok dan kulit gelap banget rupanya indikator talenta bersepak bola jagoan.

Bukan di zamannya Didier Droga atau Samuel Eto'o yang ngetop sekarang, tahun 1934, ya 76 tahun lampau, hadir Leonidas da Silva sebagai pelopor pesepak bola hitam pertama Brasil yang main di Piala Dunia Italia 1934. Padahal, sebelumnya Brasil mengirimkan pesepak bolanya, Arthur Friedenreich, yang campuran hitam-Jerman, tahun 1921 sudah tampil di Copa Amerika. Namun, blasteran item-putih ini dilarang main.

Tampilnya Leonidas justru mengeraskan niatan pemuda bernama Edson Arantes do Nascimento alias Pele yang masih berumur 17 tahun. Remaja berkulit "mutiara hitam" itu bersamba ria ngelecein pemain Swedia di final Stockholm 29 Juni 1958. Brasil juara dan Pele menerima gelar "man of the tournament". Saat itu, Brasil juga menyertakan pemain berkulit campuran, misalnya Didi dan Vava, lalu menyusul "si kaki karet" Garincha bersama Pele dan Vava-Didi, membuat Brasil jadi juara dunia kedua kali pada Piala Dunia 1962 di Santiago, Cile.

Kehadiran jagoan bola berkulit gelap secara terang-terangan ini membuka mata hati atlet berkulit hitam dan gelap lainnya, khususnya yang asal Afrika. Makanya, sisa-sisa pertandingan jago-jago bola internasional itu makin menarik dan kian memikat karena mengandung catatan sejarah perihal kehidupan manusia di dunia, sebelum adanya sepak bola Piala Dunia yang menyertakan wakil negara yang patut bermain indah, sportif, fair play, dan tidak koruptif.

Wah, berat buat Indonesia yang tidak terkait sejarah.

Tidak ada komentar: