Locations of visitors to this page JAMBI GLOBAL: KONTROVERSI GELAR PAHLAWAN SUHARTO WAWANCARA LENGKAP

Rabu, 17 November 2010

KONTROVERSI GELAR PAHLAWAN SUHARTO WAWANCARA LENGKAP

INDONESIA GLOBAL

 

 





"Pak Harto wafat", demikian tertulis di stasiun sebuah TV swasta pada acara breaking news. Selanjutnya, seorang muncul di depan layar mengumumkan bahwa mantan presiden Suharto meninggal dunia pada hari Minggu 27 Januari ’08 jam 13.10 WIB dalam usia 87 tahun. Dia gagal karena komplikasi kegagalan organ-organ tubuh.

Setelah berita tersebut, berbagai respons dari masyarakat muncul, baik yang positif mau pun yang negatif. Tidak heran, harian Batak pos muncul dengan berita utama: "Sosok Kontroversial itu Telah Pergi". Acara pemakaman pun disiarkan oleh berbagai stasiun televisi dan disaksikan oleh jutaan pemirsa. Setelah kepergian pak Harto, barangkali, beberapa hari ke depan berbagai media masih setia memuat pak Harto. Dan setelah itu, mantan presiden RI ke dua, serta yang oleh sebagian orang disebut sebagai orang besar itu pun akan segera dilupakan. Dia hanya tinggal kenangan bagi sebagian orang. Sekali pun berbagai upaya diusahakan oleh kelompok pak Harto untuk memulihkan nama baiknya, namun, seperti kata pepatah Jerman, "Kommt Zeit, Kommt Rat". Waktu jua lah yang akan menentukan siapa sesungguhnya pak Harto. Di tengah hiruk pikuknya berita wafatnya pak Harto, barangkali adalah bijak untuk merenungkan apa pelajaran apa yang dapat dipetik dari hidup pak Harto, khususnya selama masa perawatannya yang terakhir di RS Pertamina Pusat (RSPP) Jakarta.

Kekuasaan itu ada batasnya

Hal pertama yang dapat dipelajari dari kepergian Pak Harto adalah bahwa kekuasaan itu ada batasnya. Ketika Pak Harto masih berkuasa penuh atau dapat disebut berkuasa mutlak, siapa yang berani melawan kehendaknya? Tak seorang pun. Bahkan seluruh anggota MPR, yang merupakan lembaga formal tertinggi di republik ini tunduk kepada kehendaknya. Itulah sebabnya, ketika dia masih menginginkan untuk berkuasa untuk yang ketujuh kalinya, maka dibawah kepemimpinan Harmoko, semua anggota MPR dengan suara bulat bagaikan sebuah paduan suara mengatakan “setuju....”.

Ketika seorang jenderal yang sedang berkuasa ketika itu, kelihatan seperti kurang loyal kepadanya dan kepada anggota keluarganya, maka pak Harto mengeluarkan satu kalimat yang cukup keras: “Saya akan menggebuk dia”. Pernyataan itu pun segera menjadi berita utama di berbagai media, baik di dalam dan di luar negeri. Pernyataan yang keras itu juga tertulis pada sebuah sampul majalah berbahasa Inggris: “I’ll clobber him”. Hal itu menunjukkan betapa berkuasanya pak Harto ketika masih aktif. Tidak heran, jika Prof. Sahetapi pun menulis artikelnya dengan judul: “Power by remote control”. Maksudnya, pak Harto begitu berkuasa, apa pun yang dikehendakinya pasti akan terjadi. Dia tinggal pencet ‘tombol’, dan hal itu akan terjadi.
Tetapi apa yang terjadi ketika dia sedang dirawat di RSPP tersebut? Mantan penguasa orde baru itu terbaring lunglai. Tidak berdaya. Dalam kondisi yang demikian, berbagai pihak, termasuk pejabat penting datang memberi simpati. Meski demikian, Pak Harto tetap seorang pribadi yang tidak berdaya.

Ironisnya, dalam kondisi yang sama, berbagai kelompok meneriakkan: “Adili Suharto”. Sekelompok orang yang mengaku menjadi korban kekuasaannya juga datang ke RS dan menyerukan hal yang sama. Sebuah harian ibukota memuat foto dua orang dengan posisi berdiri sambil memegang dua karton putih bertuliskan: “Adili Suharto”. Baru saja pak Harto selesai dimakamkan, ratusan orang bersepeda motor menuntut agar Suharto segera diadili.
Semua itu mendemostrasikan dengan sangat jelas bahwa kekuasaan yang pernah dimiliki oleh Pak Harto, tetap ada batasnya. Itu memberi pelajaran bahwa ada kalanya orang yang sungguh-sungguh berkuasa, menjadi sungguh-sungguh tidak berdaya. Kekuasaan yang pernah dimiliki, suatu ketika pasti akan ditinggalkan.

Uang bukanlah segalanya

Selanjutnya, wafatnya pak Harto juga mendemonstrasikan bahwa kekuatan uang, ada batasnya. Ada yang berkata: “Uang adalah segalanya”. Nampaknya, untuk sementara waktu, hal itu ada benarnya. Itulah sebabnya, berkali kali pak Harto jatuh sakit, dan sangat parah. Namun, dengan bantuan alat-alat canggih, pak Harto pulih kembali. Mengapa? Karena dalam kondisi penyakit pak Harto, alat canggih seperti apa yang tidak dapat diberikan kepadanya untuk memulihkan kesehatannya? Jawabnya, tidak ada. Itulah sebabnya, demi pemulihan pak Harto, pada minggu terakhir ketika dia dirawat di RSPP, sejak hari pertama dia dirawat, semua alat-alat canggih digunakan secara tidak ‘terbatas’. Alat tersebut bukan hanya ditaruh di luar tubuhnya, tapi juga dimasukkan ke dalam tubuhnya: ginjal, jantung, dll. Alat-alat tersebut bagaikan bagian dari organ tubuh pak Harto. Meski demikian, rupanya, kondisi pak Harto terus menurun juga. Pada hari Sabtu Januari 08, sebuah harian ibu kota menulis sebagai berita utama: “Napas Suharto Sempat Berhenti”.
Apakah dia hidup kembali? Entahlah. Meresponi berbagai alat canggih yang dimasukkan ke dalam tubuh pak Harto, Menkes, Siti Fadilah berkomentar bahwa pemasangan alat seperti itu justru membuat susah pasien. Dengan pemasangan alat itu, juga bisa terjadi “kehidupan palsu, yaitu, penderita seperti hidup” (Kompas, 12 Jan ’08). Nampaknya, apa yang dikatakan oleh Menkes tersebut benar, karena apa pun yang diberikan kepada pak Harto, organ-organ tubuh yang telah tua, berusia 87 tahun itu, tidak dapat ditolong. Akhirnya, pada hari Minggu, 27.1.08, jam 13.10, secara resmi dia dikabarkan menghembuskan napasnya yang terakhir. Dengan demikian, uang bukanlah segalanya.

Kenyataan tersebut di atas 'menyerukan' kepada kita sebuah pelajaran yang tidak dapat disangkal bahwa pak Harto dan keluarga, yang sedemikian kaya dan berkuasa, harus takluk kepada maut! Kembali kita belajar dari kehidupan ini, bahwa betapa pun berkuasa dan kayanya seseorang, seseorang itu tidak boleh bergantung kepadanya. Apalagi, tidak boleh sombong; karena semua itu tidak dapat diandalkan. Jika kekuasaan dan harta, ternyata tidak dapat diandalkan, lalu apa yang dapat diandalkan? Nabi Yeremia menuliskan jawabannya: “Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi…

 ANAK KORBAN TANJUNG PERIUK

Wawancara Dahlia Biki, putri Amir Biki, tokoh Tragedi Tanjung Priok 1984.


Nur Dahlia Biki (dok. pribadi)

Meski sudah 26 tahun lewat, Tragedi Tanjung Priok 1984 itu tak lekang dari ingatan Nur Dahlia Biki, putri da’i dan tokoh masyarakat Priok, Amir Biki. Amir Biki, bersama sejumlah tokoh dan ribuan warga Priok, mendatangi Kodim Tanjung Priok meminta pembebasan empat warga, pada 12 September 1984. Mereka ditangkap dua hari sebelumnya setelah terlibat bentrok antara tentara dengan jamaah Mushala As-Sa’adah Tanjung Priok.

Amir yang bekas aktivis Posko 66 itu mencoba menengahi, tapi gagal.
Saat barisan massa yang marah menuju Kodim, mereka dihadang pasukan tentara. Menurut saksi mata, tentara lalu memberondong tembakan. Biki, seperti kesaksian bekas Wakil Ketua DPR/MPR AM Fatwa, tewas tertembus peluru. Versi pemerintah menyebutkan 53 tewas, sementara laporan versi LSM menyebut angka 400.
Meski Dahlia, 32 tahun, tak melihat langsung insiden itu, tapi dia mengingat suasana tegang di sekujur Priok, termasuk kematian ayahnya. Di tengah simpang siur nasib ayahnya, Dahlia bermimpi Biki meninggal. Lalu, mengapa dia sulit memaafkan mantan Presiden Soeharto, yang dianggapnya bertanggugjawab atas insiden itu?

Kepada Fina Dwi Yurhami dari VIVAnews, Dahlia yang menamatkan studi S2 Komunikasi di Universitas Indonesia itu menuturkan alasannya. Berikut petikan wawancara yang berlangsung di Tanjung Priok, 21 Oktober 2010.

Apa peran ayah Anda, Amir Biki, di Tanjung Priok saat itu?
Papa itu termasuk salah satu yang disegani di Priok. Beliau itu aktivis 66, kegiatan sosial kemasyarakatannya kuat. Masyarakat Priok kan banyak suku, banyak pendatang. Jadi, kalau ada konflik antar suku, konflik apapun, biasanya Papa dipanggil untuk menyelesaikan, jadi mediator, sebagai penyambung ke pemerintah, dalam hal ini Kodim.

Berapa usia Anda saat peristiwa Tanjung Priok terjadi?
Waktu itu aku baru 6 tahun, kelas 2 SD, jadi masih kecil banget. Yang terlihat dan terekam, waktu itu malam mati lampu, gelap, kebetulan aku mimpi Papa meninggal. Malam itu Mama dapat telepon dari Wakil Gubernur DKI saat itu, Bapak Edi (Mayjen Edi Nalapraya, red), dikasih tahu Papa meninggal. Mama masih belum percaya. Mungkin saat itu dini hari jam dua, jam tigaan. Tapi terus aku mimpi, baru Mama yakin. Pada saat era Reformasi, aku mendampingi Mama. Kami berjuang ke Komnas HAM, dari mulai penyidikan sampai kemudian kami gali kubur, kami cari kuburan, kami identifikasi di RS Cipto Mangunkusumo.

Buat Anda, apa dampak kejadian itu?

Ngeri, karena rumah dijaga ABRI 24 jam. Tapi, karena kami masih anak kecil, bapak-bapak ABRI itu baik-baik saja. Yang terekam tuh ngeri aja, karena kami diawasi. Kemudian, tidak ada siapa pun yang datang. Dulu biasanya rumah kami itu tempat orang nongkrong. Setelah habis subuh, Papa sarungan, semua temannya datang ke rumah, sarapan. Setelah kejadian itu, sepi. Untung karena Mama bidan, pasiennya banyak banget. Itu saja yang jadi hiburan buat Mama.

Kenapa orang tidak berani datang?

Aku rasa takut. Karena siapa pun yang dekat sama kami, terus dikejar-kejar saat itu. Kami merasa dikucilkan, tapi di lingkungan sekolah tidak. Mereka malah support kami karena mereka tahu seperti apa perjuangannya. Mama pernah mendengar kabar, keluarga Amir Biki akan dihabisi sampai ke bawah. Mama benar-benar menjaga kami. Kami dimasukkan pesantren sebagai salah satu cara menjaga kami.

Tidak ada gerakan solidaritas dengan keluarga korban yang lain?
Saat itu belum ada. Paling orang datang ke rumah bilang, “Bu, anak saya hilang, gak pulang-pulang." Seperti itu saja.

Apa tindakan pemerintah saat itu?
Kami sering diinterogasi, rumah kami diacak-acak, sampai pasien Mama takut untuk datang.

Bagaimana pandangan Anda tentang sosok Soeharto kala itu?

Mengerikan. Zaman itu, siapa yang berani sama pemerintah? Saya pikir nggak ada, kecuali bapak saya.

Di mata pemerintah ketika itu, ayah Anda adalah pemberontak dan penghasut massa sehingga menyerbu markas Kodim.

Itu kan hanya ketakutan pemerintah, mereka buat secara sistematis kejadian seperti itu. Jadi, aku pikir itu memang sudah direncanakan jauh sebelum kejadian 12 September, di-set seperti itu. Yang aku tahu, Papa arahnya bukan seperti itu, bukan ingin menentang Pancasila, bukan menjadi pemberontak di negara, karena Papa sendiri kan berteman dengan kyai dari mana saja. Saya rasa bukan itu tujuan utamanya.


Pernah mendengar cerita Ibu mengenai pendapat ayah Anda tentang sosok Soeharto?
Nggak banyak yang bisa aku dengar tentang itu. Papa juga jarang ngobrol politik dengan mama. Namanya perempuan, mama takut, “Udah Pak, nanti kamu ditembak.” Papa bilang, “Udah, kamu tenang saja. Aku kuat.” Jadi, lebih ke obrolan suami-istri saja, mendukung secara mental.
Pernah mengalami kesulitan semasa pemerintahan Orde Baru?

Yang terasa sekali adalah saat mencari kerja. Waktu kuliah dulu, aku menjadi salah satu nominator penerima beasiswa Supersemar karena kebetulan prestasi akademisku bagus. Tapi begitu dilihat anaknya Amir Biki, gagal. Kemudian, waktu melamar pekerjaan. Waktu itu aku melamar jadi PNS, ikut-ikutan sama yang baru lulus di Departemen Hukum dan HAM. Di meja depan, aku lihat dokumenku langsung dipisahkan dari yang lain. Begitu dia buka, dia lihat nama belakangku Biki, langsung dipisahkan di depan mataku.

Apa reaksi Anda saat itu?

Nangis. Aku langsung mundur dari antrean panjang, aku langsung merasa.
Anda marah?
Kalau dibilang marah, ya marah sampai saat ini. Kok Papa meninggal dengan cara begitu. Beda kalau mungkin meninggalnya wajar, sakit, atau kecelakaan. Tapi ini aku tahu dia ditembak. Kalau menuruti hati, rasanya aku mau bergabung terus dengan teman-teman aktivis, tiap hari demo. Tapi kan buktinya pengadilan HAM nggak selesai. Dari sekian banyak tersangka, yang kena hanya yang menembak saja, 12 orang. Yang lain lepas.

Menjelang Soeharto wafat, muncul usul supaya pemerintah mengampuni Soeharto. Tanggapan Anda?

Pastinya nggak bisa kami terima, karena kami tahu itu sesuatu yang sistematis. Tidak mungkinlah penembak jitu dari ABRI berani menembak kalau nggak ada perintah atasan. Secara manusiawi, aku kasihan melihat Soeharto. Tapi, kalau mengingat berapa banyak manusia yang meninggal, yang hilang saat itu, sepertinya nggak seimbang.

Pandangan Anda tentang anak-anak Soeharto?
Saya tidak pernah berhubungan dengan mereka, tapi kalau melihat secara manusiawi, biasa saja.

Pernah dengar ada permintaan maaf Tommy Soeharto atas nama ayahnya kepada para keluarga korban kekerasan Orde Baru?
Saya tak pernah tahu. Sebagai manusia, kalau minta maaf ya sudah kami maafkan. Tapi kemudian apa yang bisa dia lakukan untuk kami? Tolong dong nama baik Papa direhabilitasi, biar imbasnya tidak terasa kepada kami anak cucunya. Papa dengan teman-temannya itu bukan gerombolan. Mereka berjuang untuk sesuatu yang benar. Waktu itu petugas Babinsa masuk masjid pakai sepatu. Orang Islam mana yang bisa terima? Pengumuman pengajian disiram pakai air got, siapa yang bisa terima?
Ada peristiwa yang secara langsung Anda lihat?

Melihat langsung tidak, tapi ketika masalah ini diangkat di Komnas HAM, kami gali kuburan massal di TPU Mengkok Sukapura dan Kramat Gangseng. Di Rindam tidak jadi digali karena dua tempat tadi sudah dianggap cukup untuk menjadi bukti terjadinya pelanggaran berat HAM. Ketika itu, sudah delapan mayat ditemukan. Papa itu satu-satunya mayat yang boleh dibawa pulang oleh keluarga, setelah kejadian itu.

Kini muncul usulan pemberian gelar pahlawan nasional terhadap Soeharto. Pendapat Anda?

Ini bukan setuju atau tidak setuju, tidak semata-mata melihat apa yang sudah dikerjakan Soeharto. Ada beberapa syarat mengenai ini, kemudian ada sisi lain yang juga harus ditimbang soal kasus-kasus pelanggaran berat yang sudah dilakukannya.

Tidak ada komentar: