Locations of visitors to this page JAMBI GLOBAL: FADEL MUHAMAD KEBERHASILAN SE ORANG YANG CERDAS LAYAK UNTUK PRESIDEN 2014

Minggu, 27 Februari 2011

FADEL MUHAMAD KEBERHASILAN SE ORANG YANG CERDAS LAYAK UNTUK PRESIDEN 2014

INDONESIA GLOBAL



Fadel Batalkan Izin 300 Kapal Nelayan Asing

Sabtu, 26 Februari 2011 20:28 WIB | 429 Views

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad membatalkan izin operasional 300 kapal nelayan asing yang beroperasi di tanah air karena dinilai merugikan nelayan dalam negeri.

"300 kapal saya batalkan izinnya, meskipun itu sebetulnya izin lama sebelum saya menjadi menteri. Biarin saja," kata Fadel Muhammad saat meresmikan depo rumput laut, pabrik rumput laut dan sentra pengolahan ikan roa asap di Parigi Moutong, Sulteng, Sabtu sore.

Dia mengatakan kapal-kapal tersebut umumnya berasal dari Vietnam dan Thailand. Menurut Fadel, sudah saatnya pemerintah bersikap tegas untuk memproteksi izin operasional kapal nelayan asing di dalam negeri dan diberikan peluang yang besar kepada nelayan dalam negeri.

Fadel mengatakan, keputusannya tersebut sudah dilaporkan ke presiden dan direspons secara baik oleh presiden.

"Saya sampaikan ke presiden bahwa hasil kekayaan alam kita harus kita olah dalam negeri. Silahkan saudara menteri, itu kebijakan yang baik," kata Fadel mengutip hasil pembicaraannya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Fadel, ikan-ikan yang ada di Indonesia harus diolah semua di dalam negeri. Dia mengatakan, tidak ada urusan dengan izin lama yang sudah dikeluarkan sebelumnya. Menurutnya, selama ia menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, dia akan mencoret kapal-kapal asing yang menangkap ikan di dalam negeri.

Fadel mengatakan, dirinya harus konsisten meski ia menyadari banyak pihak yang tidak setuju dengan keputusannya tersebut. Dia menegaskan, jika ingin maju pemerintah harus konsisten.

"Nanti saudara-saudara akan maju. Nanti kapan? Sekarang waktunya," tegas Fadel.

Menurut Fadel, bangsa Indonesia tidak boleh lagi seperti dulu. Indonesia harus naik satu tingkat dari sebelumnya.

Menurut Fadel, Indonesia selama ini bangga dengan prestasi ekspor di berbagai bidang. Padahal kata Fadel bahan ekspor tersebut adalah bahan baku seperti gas dan nikel. Indonesia kata dia, hanya menjadi punyuplai bahan baku dan tidak menjadi negara produsen. Indonesia kata dia hanya menjadi negara impor yang sudah menerima bahan-bahan jadi dari negara luar.

Tidak heran kata Fadel jika negara-negara tujuan ekspor tersebut mobilisasi jam kerja tinggi sehingga ikut menyedot tenaga kerja yang besar.

"Harus distop seperti itu. Saatnya kita bangun pabrik di dalam negeri kita sendiri," kata Fadel.

Fadel juga mengingatkan kepada gubernur Sulteng agar mengajak investor yang masuk di daerah ini untuk membangun pabrik pengolahan, sehingga bahan-bahan baku seperti nikel tidak lagi dibawah ke luar negeri dalam bentuk mentah.

"Saya tadi naik helikopter dari Morowali. Saya lihat di Morowali kekayaan nikelnya begitu banyak, tetapi nikelnya diambil dan dibawah ke luar negeri,"

"Pak gubernur harus distop dengan cara seperti itu. Suruh mereka bangun pabrik di sini. Kalau pabriknya dibangun masyarakat bisa bekerja di sini," kata Fadel.

Mantan gubernur Gorontalo itu mengatakan, kendala yang dihadapi masyarakat selama ini adalah sumber daya. Fadel berharap, agar para pemangku kepentingan membantu masyarakat khususnya masyarakat pesisir untuk memperbaiki sumber dayanya dengan berbagai model pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.


Fadel Meminta Jaga Stabilitas Harga Rumput Laut

Sabtu, 26 Februari 2011 23:43 WIB | 93 Views
Berita Terkait

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad meminta agar pemerintah menjaga stabilitas harga rumput laut sehingga masyarakat pembudidaya sumber daya kelautan ini bisa bertahan.

"Tidak boleh kita membuat harga yang membuat petani rugi, rakyat harus untung dengan harga yang layak. Kalau rugi nanti lari," kata Fadel saat meresmikan depo rumput laut di Desa Laemanta, Kecamatan Kasimbar, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Sabtu sore.

Dia mengatakan, harga rumput laut kering saat ini masih bervariasi antara Rp6.000 per kilogram sampai Rp8.000 per kilogram. Bahkan di beberapa daerah ada yang sampai Rp12.000 per kilogram.

Sementara itu petani rumput laut di Desa Laemanta saat ini lebih senang menjual produksi rumput laut mentah dibanding rumput laut kering. Satu kilogram rumput laut basah dijual Rp1.000.

"Kami menjual yang basah karena tidak ada waktu untuk menjemur, waktu kami tersita dengan menjemur," kata Ardin Abdillah, salah seorang pembudidaya.

Menurut Ardin harga tersebut sudah lumayan untung setelah dikeluarkan ongkos produksi.

Untuk mengeringkan rumput laut biasanya membutuhkan waktu sampai tujuh hari, jika cuaca normal. Sebaliknya jika cuaca buruk, butuh waktu lebih lama lagi bahkan sampai 10 hari.

Ardin mengatakan, perbandingan rumput laut kering dengan basah 10 banding dua. 10 kilogram basah sama dengan dua kilogram kering.

Seluruh rumput laut yang diproduksi di desa ini dibeli sepenuhnya oleh koperasi di desa itu, selanjutnya ditampung di depo rumput laut.

Kabupaten Parigi Moutong termasuk salah satu daerah penghasil rumput laut dengan kontribusi 10 persen dari 779 ribu ton total produksi rumput laut basah Sulteng. Kontribusi tertinggi dari Kabupaten Morowali sebanyak 40 persen dan Banggai Kepulauan 30 persen.

Sistem pengelolaan rumput laut di daerah ini sudah menggunakan pipa paralon dibuat petak segi empat dengan empat pelampung di setiap sudutnya.

Satu petak pipa paralon 4 x 4 meter bisa menghasilkan 515 kilogram basah. Cara ini juga efektif sehingga dalam satu hektare bisa menampung 567 petak. Satu hektare digarap satu kelompok beranggotakan 10 sampai 12 orang.

"Hasil produksi ini yang kami bagi ke semua anggota kelompok," kata Ardin.

Menteri Fadel Muhammad berjanji, jika produksi rumput laut di Kabupaten Parigi Moutong sudah di atas kisaran 500 ribu ton pemerintah akan membangunkan pabrik. Pemerintah Provinsi Sulteng menargetkan produksi rumput laut satu juta ton.


Jaga Harga, KKP Bangun Depo Rumput Laut

Sabtu, 26 Februari 2011 21:21 WIB | 145 Views

Indonesia sekarang ini telah menjadi negara penghasil rumput laut terbesar di dunia,menggeser dominasi Filipina. Untuk mengantisipasi peningkatan produksi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan usaha rumput laut secara terpadu dari hulu sampai hilir. Minapolitan berbasis komoditas rumput laut merupakan salah satu upaya untuk mengintegasikan industri ini. Disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad pada acara Peresmian Depo Rumput Laut dan Pabrik Rumput Laut dan Sentra Pengolahan Ikan Roa Asap Luwuk Banggai di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah hari ini (25/2).

Keberadaan depo rumput laut ini merupakan bagian penting dari sistem pembangunan industri rumput laut dan persyaratan minapolitan industri rumput laut, lanjut Fadel. Musim tanam dan panen rumput laut sangat dipengaruhi oleh cuaca. Selain menanam,juga diperlukan panas matahari untuk pengeringan rumput laut. Depo ini dapat dimanfaatkan sebagai gudang untuk tempat penyimpanan rumput laut sehingga dapat menjaga fluktuasi harga dan menjamin budidaya komoditas ini dilakukan secara berkelanjutan.

Belajar dari pengalaman komoditas lainnya, KKP beberapa hari lalu melakukan kesepakatan bersama dengan menggandeng 5 kementerian dalam hal sinergitas kegiatan pengembangan rumput laut untuk percepatan pembangunan ekonomi masyarakat. Salah satu Kementerian yang digandeng adalah Kementerian Perdagangan untuk dapat memfasilitasi pemanfaatan gudang yang dimiliki swasta, disamping melakukan ikut serta melakukan intervensi harga rumput laut sehingga tidak mengalami fluktuasi harga.

Produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2010 adalah sebesar 3,082 juta ton, meningkat dibandingkan produksi tahun 2009 sebesar 2,574 juta ton. Sementara itu, KKP tengah menyiapkan 60 klaster rumput laut untuk merealisasikan target produksi sebesar 10 juta ton pada tahun 2014. Disamping menggenjot produksi, KKP terus berusaha meningkatkan nilai tambah rumput laut dengan melakukan pengolahan rumput laut menjadi beberapa turunan (derivatifnya) sebelum dijual.

Dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Parigi Moutong, Fadel juga meresmikan Sentra Pengolahan ikan Roa Asap. Sentra yang terletak di Luwuk-Banggai merupakan salah satu upaya untuk mengamankan produksi hasil tangkapan ikan roa nelayan setempat. Sebagai mata rantai, keberadaan sentra pengolahan ikan tidak dapat dipisahkan dengan produksi olahan skala UMKM menuju produk perikanan yang efesien, memiliki jaminan mutu dan keamanan pangan, serta berdaya saing.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc, Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan,


Produksi Rumput Laut Lampaui Target

Salah satu komoditas yang digenjot produksinya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) adalah rumput laut. Sebagai salah satu komoditas andalan, KKP tengah menyiapkan 60 klaster untuk memacu produksi sebesar 10 juta ton rumput laut hingga 2014. Hasilnya, produksi tahun 2010 sebesar 3,082 juta ton atau melewati target yang telah ditetapkan KKP sebesar 2,574 juta ton. Disampaikan "Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad" dalam kunjungannya bertemu dengan kelompok pembudidaya rumput laut di Desa Kuteh, Kabupaten Badung, Propinsi Bali hari ini (4/2).

Sebagai komoditas unggulan, produksi rumput laut menyumbang utama produksi perikanan budidaya. Setiap tahun produksi rumput laut terus mengalami peningkatan, dari sebesar 2,574 juta ton pada tahun 2009 menjadi 3,082 juta ton pada tahun 2010. Dalam rangka merealisasikan target produksi rumput laut, KKP akan menempuh dua langkah. "Pertama", ekstensifikasi atau memperluas atau menambah unit usaha budidaya. "Kedua", intensifikasi atau peningkatan jumlah produksi melalui penambahan jumlah setiap unit usaha budidaya untuk pengembangan rumput laut, potensi lahan di teluk maupun perairan pantai Indonesia masih sangat luas. Saat ini lahan untuk rumput laut didata seluas 4,5 juta hektar.

Saat ini KKP bersama pemerintah Daerah (Pemda) dan swasta telah membangun 12 klaster rumput laut yang tersebar di Sumenep Jawa Timur, Gorontalo, Pangkep Sulawesi Selatan, Dompu Nusa Tenggara Barat (NTB), Kabupeten Serang Banten, Kepulauan Riau, Minahasa Utara, Parigi Moutang Sulawesi Tengah,Polewalimandar Sulawesi Barat dan Bau Bau Sulawesi Tenggara. Selain itu, KKP juga akan membatasi ekspor rumput laut dalam bentuk kering ("dried seaweed") pada 2012 guna mendorong tumbuhnya industri pengolahan dalam negeri.

Hingga tahun 2008, sebanyak 15% rumput laut yang diekspor dalam bentuk olahan oleh Indonesia, sementara sisanya diekspor dalam bentuk kering. KKP menyiapkan tiga opsi kebijakan tentang pengembangan pengolahan rumput laut.

"Pertama", eksportir rumput laut kering harus terdaftar dan wajib memiliki pabrik pengolahan di dalam negeri. "Kedua", pemerintah membatasi ekspor rumput laut kering. "Ketiga", memberikan wewenang kepada koperasi untuk melakukan ekspor rumput laut.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi Dr.Yulistyo Mudho,M.Sc (HP.0811836967) Kementerian Kelautan dan Perikanan.


Bali Hasilkan 150.000 Ton Rumput Laut


Bali mampu menghasilkan sekitar 150.000 ton matadagangan rumput laut selama 2010, meningkat 45.000 ton atau 42,8 persen dari tahun sebelumnya yang hanya tercatat 105.000 ton.

"Matadagangan tersebut dipanen dari lahan pengembangan seluas 707,7 hektare di wilayah perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Pantai Kutuh, Kabupaten Badung, Benoa, Kota Denpasar dan Pantai Bukti, Kabupaten Buleleng yang menjadi sentra pengembangan rumput laut di daerah ini," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali Gusti Putu Nuriatha di Denpasar, Sabtu.

Ia mengatakan, sentra pengembangan rumput laut tersebut mempunyai potensi yang sangat besar, namun baru dimanfaatkan sebagian kecil saja.

Nusa Penida, sebuah pulau kecil yang terletak sekitar 19 mil laut tenggara daratan Bali, wilayah pantainya tercatat sebagai "museum" spinosum, yakni jenis rumput laut yang telah langka di dunia.

Rumput laut jenis spinosum merupakan species tumbuhan perairan langka, karena di Indonesia hanya terdapat di kawasan pantai Nusa Penida.

Sejumlah peneliti, baik dari IPB Bogor maupun Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), bahkan dari luar negeri, sering kali menyebutkan kalau spinosum merupakan species langka.

Para peneliti juga sering mengaku bersyukur species langka itu masih bisa tumbuh subur di kawasan pantai Nusa Penida yang tergolong belum banyak "dilanyah" pendatang atau kepentingan wisatawan,

Ke depan potensi tersebut diharapkan dapat dikembangkan secara maksimal, sehingga produksi dapat ditingkatkan sebesar 353 persen dalam kurun waktu lima tahun mendatang, harap Gusti Putu Nuriatha.

Untuk itu pihaknya memberikan bantuan berupa 295 unit alat pengeringan rumput laut (para-para) kepada kelompok tani rumput laut Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

Bantuan serupa juga diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali sebanyak 160 unit. Dengan demikian petani rumput laut di Bali, khususnya di sentra pengembangan Nusa Penida yang memiliki perairan sangat potensial untuk pengembangan rumput laut mampu menghasilkan produksi yang bermutu dan mampu bersaing di pasaran ekspor.

Produksi rumput laut yang dihasilkan itu sebagian besar sebagai matadagangan antarpulau dengan tujuan Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Matadagangan itu setelah diproses lebih lanjut dijadikan matadagangan ekspor lewat kedua daerah itu.

Hanya sebagian kecil matadagangan rumpur laut itu diolah menjadi makanan dan minuman siap hidang maupun sebagai komoditi ekspor.

Hanya tercatat 376 kilogram rumput laut yang diekspor ke pasaran luar negeri senilai 2.080 dolar AS selama sebelas bulan periode Januari-November 2010.

Kondisi tersebut menurun 126 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai 917 dolar AS atas pengapalan 395 kilogram, ujar Gusti Putu Nuriatha.

Cuaca Berubah, Produksi Rumput Laut Turun

Produksi rumput laut di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, mengalami penurunan akibat cuaca yang tidak menentu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantaeng H Abd Latif Naikang, di Bantaeng, Kamis, mengatakan, dari 7,7 ton rumput laut kering yang ditargetkan Desember 2010, realisasinya hanya mencapai 6,7 ton.

Menurutnya, akibat curah hujan tinggi, rumput laut mengalami pertumbuhan yang kerdil karena terbungkus lumut. Selain itu, petani mengalami kesulitan menjemur hasil panennya.

Di Kecamatan Pajukukang, petani rumput laut bahkan menunda menurunkan bentangannya karena takut rugi. "Mereka terpaksa menunggu hingga cuaca membaik," tuturnya.

Petani rumput laut Kecamatan Pajukukang dan Kecamatan Bissappu serta Kecamatan Bantaeng mengalami perbedaan penanaman. Pada Januari ini, petani rumput laut Kecamatan Bissappu dan Bantaeng sedang panen, sementara petani rumput laut Pajukukang baru akan menurunkan bentangannya.

Itu akibat perbedaan iklim, tambahnya seraya mengatakan, petani Pajukukang mengikuti musim barat sedang petani Bissappu dan Bantaeng mengikuti musim timur.

Menjawab pertanyaan, Kadis Kelautan dan Perikanan Bantaeng mengatakan, dari segi harga, cukup stabil dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Harga di tingkat petani saat ini mencapai titik normal Rp9.500/kg (kering).

Sebelumnya, tambah Abd Latief, harga hanya mencapai Rp7000/kg. Tentang upaya peningkatan produksi, ia mengatakan, mulai tahun ini pihaknya akan menerapkan teknologi penangkaran untuk memperoleh bibit berkualitas.

Selama ini, petani hanya menggunakan bibit dari hasil produksinya sendiri yang disisipkan dari hasil panen yang ada. Karena itu, ke depan, akan digunakan bibit hasil penangkaran yang dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan.

Salah satu teknologi penangkaran yang akan diterapkan adalah dengan sistem budidaya horizontal dan bertingkat untuk memperoleh bibit unggul, ujarnya seraya mengemukakan jenis rumput laut yang selama ini dikembangkan yakni jenis cotoni, edula dan spenusum.

Selain melakukan penangkaran, pihaknya juga akan melakukan pertemuan (tudang sipulung) dengan para petani, baik yang mengikuti musim barat maupun musim timur.

Pertemuan tersebut untuk menentukan pola tanam yang tepat. Karena itu, ia berharap dukungan semua pihak untuk melancarkan penangkaran di tiga kecamatan tersebut agar target ke depan dapat diraih.

Bila program berjalan sesuai harapan, produksi rumput laut Bantaeng akan mengalami lonjakan. Pemanfaatan lain dari rumput laut yang juga untuk mendukung penganekaragaman pangan, ujarnya.

Melalui binaan Dinas Kelautan dan Perikanan, rumput laut juga dapat dibuat aneka jenis makanan olahan. Hasilnya, UKM Algae yang merupakan binaan Dinas Kelautan dan Perikanan bersama PKK Kabupaten Bantaeng berhasil meraih juara I tingkat provinsi dan juara harapan 1 tingkat nasional dalam lomba penganekaragaman pangan berbasis rumput laut.

Kabupaten Bantaeng merupakan daerah sentra produksi rumput laut di Sulsel dengan panjang pantai mencapai 21 kilometer.

Tidak ada komentar: