Locations of visitors to this page JAMBI GLOBAL: MASSA USMAN KEPUNG RUMAH SAFRIAL

Jumat, 22 Oktober 2010

MASSA USMAN KEPUNG RUMAH SAFRIAL

JAMBI GLOBAL BY:TONI SAMRIANTO

Dituding Kumpulkan Kades dan Kepala Dinas

KUALATUNGKAL - Dua hari menjelang pemungutan suara, suhu politik di Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat) semakin memanas. Senin malam (18/10) lalu, ratusan massa pendukung dan simpatisan Usman-Katamso (Utama), menyerbu rumah dinas Bupati Tanjab Barat Safrial MS. Mereka mengepung rumah yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Kualatungkal itu selama 18 jam. Massa baru membubarkan diri, pukul 15.00 kemarin (19/10).

Tindakan ini mereka lakukan sebagai bentuk aksi protes. Massa yang dimotori sejumlah pentolan tim sukses Usman-Katamso itu juga meneriakkan yel-yel dan propaganda yang menyebut Safrial tidak fair dalam berpolitik. Mereka menuduh Safrial yang juga calon incumbent, pesaing Usman Ermulan, telah menggunakan fasilitas rumah dinas sebagai tempat pertemuan dan penggalangan suara jelang pemungutan suara, 21 Oktober nanti.

Mereka juga menuding suami Cici Halimah itu telah mengumpulkan kepala desa (kades), PNS, tim sukses, tokoh masyarakat dan beberapa pejabat SKPD, sebagai upaya pemenangan pada tanggal 21 Oktober 2010 besok. Mereka meminta Panwaslu Tanjab Barat dan pihak terkait lainnya mengambil tindakan tegas atas kejadian itu.

“Kita minta panwaslu bersikap tegas dan menindaklanjuti pelanggaran menggunakan rumah dinas yang dilakukan oleh Safrial MS ini,” kata salah seorang warga di antara kerumunan massa ketika anggota panwaslu berada di lokasi. Mereka menegaskan tidak akan membubarkan diri, jika panwaslu tidak segera bertindak tegas atas dugaan pelanggaran pemilu pada masa tenang.

Kedatangan massa Utama ke rumah dinas bupati, berawal dari adanya pertemuan secara tertutup antara kepala desa, tim sukses, dan kepala dinas beserta sejumlah pejabat di rumah dinas bupati. Ratusan massa langsung dihadang pihak kepolisian karena akan masuk dan menggeledah kediaman kepala daerah itu.

Pantauan Jambi Independent, sejak Senin malam hingga Selasa dini hari, selain ratusan massa, turut hadir sejumlah anggota DPRD Tanjab Barat yang mendukung Utama. Di antaranya H Saefuddin, Umar Ibrahim, Jamal Darmawan, Suhatmeri, Hamid Chung, dan Indra Safari.

Sementara, puluhan personel Polres Tanjab Barat, dari Satuan Dalmas, Sat Intelkam, dan Reskrim tampak berjaga-jaga di depan pagar rumah dinas. Sebagian lagi ada yang bersiaga di halaman rumah dinas.

Ketua tim pemenangan Usman-Katamso, H Syaifuddin mengatakan, aksi yang mereka lakukan sebagai bentuk protes atas sikap Safrial MS yang menggunakan rumah dinas sebagai tempat mengumpulkan tim sukses, PNS, sejumlah Kepala desa dan pimpinan SKPD untuk memenangkan Pemilukada.

“Ini yang kita permasalahkan. Rumah dinas itu milik negara dan dibiayai dari APBD. Tidak boleh digunakan untuk menggalang kekuatan politik. Itu menyalahi aturan. Kalau pertemuan dan penggalangan itu dilakukan Safrial di Posko, kita tidak masalah. Jadi kita minta pihak terkait mengusut masalah ini,” katanya.

Syaifuddin menyebutkan beberapa orang PNS dan pimpinan SKPD telah mereka identifikasi melakukan pertemuan dengan Safrial. Di antaranya, Kepala
Kantor PPKTB; Muchlis, Kabag Hukum; Hidayat Badar, dan Kepala Satpol PP; Encep Jarkasih. Kemudian, Kacabdis Seberang Kota; Abdul HakimGajah. Mahdi, para kades dan tim sukses Safrial-Yamin dan pihak lainnya, seperti Acuang, Mat Bunting, dan Udin

Beberapa di antara PNS yang hadir, menurut Syaifuddin, ada yang kabur ketika mereka mulai berkumpul dan berteriak di depan pagar rumah dinas Safrial tersebut. Di antaranya, Kades Serdang Jaya, Kades Mekar Jaya, Kabag Hukum Setda Tanjab Barat, Kakan Tata Kota, Muchlis SH, Hj.Salmah, Irham, dan Zais.

Sementara beberapa orang lainnya masih terkepung dan hingga siang kemarin masih berada di rumah dinas. Mereka antara lain, Kades Pematang Lumut; Hasan Basri Harahap, Ustadz Murni, Ustad Ismail, Ustad Satargih, dan Acuang.

“Kejadian ini sudah dua kali. Kami tidak terima. Kami minta pemilu ini adil tanpa ada pelanggaran. Sebelum datang ke sini, kami sudah memberitahu KPUD dan Panwaslu, tapi sepertinya tidak ada tindakan,” kata anggota Komisi I DPRD itu, Senin malam lalu.

Menurut dia, jika tidak segera bertindak, kepercayaan masyarakat terhadap panwaslu akan hilang. Dia juga meminta, pemilukada ditunda, karena masyarakat sudah tidak percaya dengan Panwaslu. “Panwaslu dibiayai negara, begitu juga dengan KPUD. Diharapkan penyelenggara pemilu harus tegas, karena ini sudah melanggar, ada pertemuan di rumah dinas pada masa minggu tenang,” katanya.

Ditemukan Satu PNS

Sekitar pukul 00.30, kemarin (19/10), perwakilan massa dan sejumlah wartawan diperbolehkan masuk gerbang rumah dinas bupati. Anggota dewan yang diperbolehkan masuk di antaranya, H Syaifuddin, Hamid Chung, Jamal Darmawan, H Satiar, Suhatmeri dan Umar Ibrahim.

Mereka ingin menggeledah rumah dinas, namun kepolisian tidak memperbolehkan, karena Rumah Dinas merupakan objek vital. Akhirnya Kapolres Tanjab Barat pun turun tangan guna menengahi perseteruan itu.

Kapolres Tanjab Barat AKBP Mintarjo menyerahkan persoalan ini kepada panwaslu. Kata dia, ada mekanisme yang harus dipatuhi, karena persoalan ini adalah masalah pemilu. Kapolres meminta kepada para simpatisan untuk bersikap tenang.

“Mari kita sama-sama selesaikan dengan pikiran jernih. Kita ikuti aturan dan undang-undang. Kami serahkan kepada panwaslu, karena ini wewenangnya. Kepolisian dalam hal ini berada ditengah-tengah,” ujar Mintarjo.

Akhirnya, anggota panwaslu yang terdiri dari A Sibli dan Budi didampingi beberapa anggota kepolisian memeriksa sejumlah ruangan di rumah dinas. Hanya saja, mereka tidak sempat masuk ke ruangan dalam.

Panwaslu menemukan satu orang di ruangan belakang, bernama Abdul Hakim Mahdi, seorang PNS di Pemkab Tanjab Barat. Hasil pengecekan panwaslu, warga Parit Delapan, Kecamatan Bram Itam itu hanya bertamu ke rumah dinas.

“Kita temukan dia sedang duduk. Dan kedatangannya bertamu ke rumah dinas. Kami hanya memeriksa ruangan sebelah luar, karena ruangan dalam terkunci,” kata Budi, Anggota Panwaslu.

Ketua Panwaslu Rusli Tarigan, mengatakan, saat melakukan pengecekan, dua anggotanya sempat bertanya secara langsung kepada Safrial di dalam rumah dinas tersebut. Safrial mengaku tidak ada menggelar pertemuan dengan para pimpinan SKPD, PNS dan para kepala desa.

“Bupati (Safrial, red) bilang dia hanya menerima tamu H Mughni, yang ketika itu salat tasbih di mushola rumah dinas untuk berdoa agar pemilukada berjalan lancar dan aman. Selain Pak H Mughni, bupati bilang dia hanya terima tamu H Aspandi yang ketika itu minta bantuan dana untuk berangkat Rakorwil IPHI ke Padang,” jelas Rusli.

Menurut dia, Safrial juga mengaku sempat berbincang dengan salah satu pengusaha, bernama Aju. “Tapi bupati bilang hanya cerita bisnis,” terang Rusli.
Ketika disinggung sejumlah nama pejabat, PNS dan tim sukses dan para kades, menurut Rusli, Safrial mengaku tidak ada mengundang apalagi melakukan pertemuan.

Safrial Layangkan Protes ke Polda

Ulah massa pendukung Usman-Katamso (UTAMA) yang mengepung rumah dinasnya mendapat reaksi keras dari pasangan Safrial-Yamin (SbY). Melalui tim advokasinya, Safrial akan melayangkan surat protes keras ke Polda Jambi. Mereka menilai polisi terkesan membiarkan aksi pengepungan yang dilakukan pendukung UTAMA tersebut.

Padahal, menurut mereka, aksi tersebut tidak memiliki izin dan melanggar tahapan pilkada. Yaitu saat kegiatan, tanggal 18 oktober sekitar pukul 23.30, yang diikuti beberapa anggota dewan telah melanggar aturan main masa tenang.

Ketua tim advokasi Safrial-Yamin, Nazirin Lazie mengatakan, selain aparat kepolisian (Polres Tanjab Barat, para pihak yang akan dimintakan pertanggungjawabannya atas kejadian itu adalah panwaslu dan pihak-pihak terkait lainnya. Surat protes ke Polda itu akan mereka tembuskan ke Mabes Polri dan pimpinan tertinggi masing-masing lembaga yang bersangkutan.

“Ini kan memancing bentrok fisik. Ini namanya tidak menjaga kenyamanan pilkada. Seharusnya tak perlu menggunakan massa. Kan ada pihak-pihak yang berwenang mengurus pilkada. Kenapa semua pihak seolah mau menyelesaikan persoalan. Apalagi orang awam yang tak tahu aturan,” kata Nazirin Lazie.

Menurut pria yang berprofesi sebagai pengacara itu, yang menjadi dasar acuan mereka melapor adalah UU no 32 tentang pemerintahan daerah dan UU No 12, tentang Pemilukada Junto peraturan nomor 65 tahun 2009, soal aturan pelaksanaan pilkada. Mereka menilai, peristiwa seperti pengepungan itu bisa terjadi kapan saja. Makanya, mereka meminta kepada pendukung Safrial-Yamin tak meladeni upaya provokasi yang dilakukan tim Utama.

“Sejak awal kita sudah menduga bakal ada upaya provokasi. Makanya, kita juga memberikan saran kepada kandidat untuk tak ikut debat, karena bisa memancing keributan,” lanjut Nazirin. “Kalau sudah ribut, semua pihak dirugikan dan khusunya pilkada akan menjadi kacau,” tambahnya.

Terpisah, Sekretaris Tim Pemenangan Safrial-Yamin, Mukhtar AB, membantah tudingan tim Utama yang menyebutkan ada pertemuan Safrial dengan tim sukses di rumah dinas. “Kalau pertemuan khusus tim sukses dengan Pak Safrial itu tidak ada. Saya ini sekretaris tim. Tidak ada itu. Tapi kalau ada tim datang ke rumah dinas mungkin sah-sah saja, mereka kan juga masyarakat Tanjab Barat,” katanya.

Termasuk soal PNS, menurut Mukhtar, tidak ada pertemuan Safrial dengan PNS. Kalaupun ada PNS yang berada di rumah dinas, mungkin PNS yang bertugas di sana. Menanggapi masalah ini, Mukhtar enggan berspekulasi. Kalau lah tim Usman-Katamso menilai hal itu sebagai pelanggaran, dia mempersilahkan melapor ke panwaslu.

“Kita kooperatif sajalah. Kalau dinilai ada pelanggaran laporkan dengan panwaslu. Nanti panwaslu yang akan menindaklanjuti itu. Kalau sifatnya pidana pemilu diteruskan ke Gakkumdu. Kalau administrasi diteruskan ke KPUD. Saya pikir begitu saja,” kata Mukhtar.

Pantauan Jambi Independent di lapangan, aksi massa pendukung dan simpatisan Usman-Katamso itu mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan. Ratusan polisi bersenjata lengkap dari Polres Tanjab Barat bersama personel Kodim dan Satpol PP disiagakan di lokasi. Kapolres Tanjung Jabung Barat AKBP Mintarjo dan Komandan Kodim juga turut melakukan pengamanan. Mereka terlihat siaga satu.

Berbagai upaya persuasif dan komunikasi terus dilakukan. Namun massa hanya menepi dan masih tetap bertahan. Kendati demikian tidak ada bentrok fisik antara aparat dan massa maupun orang-orang yang berada di dalam areal rumah dinas.

Masih berdasarkan pantauan di lapangan, gerakan massa sempat memanas terlihat tiga kali. Pertama sekitar pukul 10.17, kemarin. Ketika seorang laki-laki berhelm yang membonceng perempuan keluar dari rumah dinas bupati dengan sepeda motor.

Ketika itu orang tersebut sempat dikejar oleh massa. Tapi, berhasil dicegah oleh aparat kepolisian. Kejadian serupa juga terjadi sekitar pukul 12.17. Ketika itu salah seorang pria yang diketahui bernama Muk Ketuk hendak keluar dari rumah dinas bupati. Ketika mendekati pagar, dia sempat dikejar, diteriaki dan dihujat massa. Melihat kejadian itu, aparat kepolisian yang sejak bersiaga di depan pagar melarang Muk Ketuk keluar sambil menenangkan massa.

Peristiwa ketiga terjadi sekitar pukul 13.45, ketika mobil Kijang kapsul bernopol BH 1320 OL keluar dari halaman rumah dinas bupati. Mobil itu membawa tiga orang kerabat Safrial dari Jambi bersama Abdul Hakim Mahdi. Tepat di depan gerbang pagar, mobil berwarna hitam itu dicegat massa. Beberapa orang terlihat mengacungkan pukulan dan berusaha membuka pintu mobil. Namun lagi-lagi polisi dengan sigap menahan aksi massa dan meminta massa tidak menghalangi mobil itu melanjutkan perjalanan.

Massa baru membubarkan diri sekitar pukul 15.30 sore kemarin, setelah aparat kepolisian dari satuan Brimob, Dalmas dan anti huru-hara menyisir dan menekan pergerakan massa dengan menggunakan pola pagar betis dan memblokade beberapa titik yang melintasi rumah dinas.

Kapolres Tanjab Barat AKBP Mintarjo ketika dikonfirmasi sore kemarin mengatakan, situasi sementara masih kondusif dan terkendali. Namun pihaknya
tetap melakukan antisipasi dan pengamanan ketat dengan menurunkan ratusan personil bersenjata lengkap dari Brimob, Dit Samapta Polda, intel, dan pasukan antihuru-hara. “Kita akan tetap standby sampai situasi benar-benar kondusif. Kita minta masyarakat berpikir jernih tanpa anarkis dan tidak terpancing dengan isu-isu provokatif,” katanya.

Disamping itu beberapa personel dari Kodim Tanjung Jabung juga terlihat bersiaga di kawasan rumah dinas bupati.

Tidak ada komentar: